nama : Puput Eka Pratiwi
npm : 118050009
Momonkuh
Di sini saya akan mereview tentang kenapa saya sangat menyukai kucing mahluk tuhan yang berambut ingat kucing itu berambut seperti manusia bukan berbulu, yang berbulu itu unggas seperti bebek, ayam, dll.
Kucing kalian pasti tau dong kucing kan? Mungkin di sekitar rumah atau di rumah kalian melihara mahluk yang bernama kucing.
Saya memanggil kucing dengan sebutan "Momon" di ambil dari kata "Doraemon" kartun Jepang yang sampai sekarang masih populer.
Alasan saya sangat menyukai Momon adalah karena lucu, bulunya yang menggemaskan, suaranya, tangan mungil yang mirip manggis, dan banyak lagi.
Bagi saya sendiri Momon itu seperti teman saya, walau dia tidak pernah ngerespon saya ketika saya cerita ke Momon tapi saya merasa lega telah bercerita ke Momon ketimbang teman sendiri.
Dari kecil saya sudah dekat dengan Momon, tidur, makan, mandi bareng. Tapi setelah suatu kejadian di mana Momon saya meninggal di tabrak motor, saya tidak boleh melihara Momon lagi sampai sekarang. Saya cuman bisa ngasih makan Momon yang lewat rumah, saya senang walau tidak meliharanya.
Di sosial media saya mengikuti beberapa konten tentang Momon. Di situ ada aktivitas keseharian Momon, musibah yang menimpa Momon dan banyak lagi. Ketika ada Momon yang sakit saya merasa sedih bahkan sampai nangis padahal saya cuman liat di layar hp tapi hati saya tersentuh begitu dalam.
Bahkan di hp saya video dan foto hampir 70% tentang Momon. Mulai dari Momon belang, putih, betmen, hitam, tiga warna, sampai oren yang di sebut Momon oyen yang sedang viral pun di hp saya ada video dan fotonya.
Mungkin yang sekontak dengan saya di whatsapp bosen ketika saya bikin snap wa tentang Momon terus wkwk, Itu kesenangan bagi diri saya sendiri.
Saya selalu berdo'a buat Momon di seluruh dunia sehat selalu. Mungkin itu saja review dari saya. Terima kasih
Aan Jumiasih seorang gadis yang tangguh
Hidupnya bagaikan kisah di televisi yang penuh dengan drama setiap episodenya bertambah masalah. Tubuh mungil, alis tebal, kulit sawo matang dia seorang gadis cilik yang harus menjalankan kehidupannya dengan mengorbankan masa kecilnya demi keluarga untuk bisa hidup bahagia.
Aan Jumiasih anak perempuan yang baru saja menginjak umur 11 tahun, setiap hari Aan selalu mengerjakan pekerjaan rumah ketika ibunya bersenang-senang, sementara ayah tirinya bekerja sebagai buruh.
Setiap hari memasak nasi dan setelah itu membeli lauk ke warung terdekat semua itu disiapkan untuk sarapan keluarganya, setelah semuanya selesai Aan berangkat sekolah. Di sekolah dia adalah orang yang pendiam dia hanya mempunyai teman beberapa saja.
Setelah pulang sekolah biasanya membereskan rumah jarang sekali bermain dengan teman-teman seusianya, setiap keluar rumah bermain selalu di cariin oleh ibunya dan di suruh pulang.
Aan sangat menyukai sinetron “cinta sebening embun” menurutnya kisah di dalam sinetron tersebut sama seperti kisah hidupnya. Sampai-sampai dia hapal episode pertama sampai kemarin tanggal 17 mei 2019.
Empat tahun yang lalu di hampir di jual ke orang, pada masa itu kehidupan ekonomi keluarganya sedang menurun, lamun sang pembeli menginginkan adiknya yang masih kecil sehingga ibunya menjual adiknya, Aan sedih adiknya di jual dan semakin sedih lagi sebulan setelah adiknya di jual ibunya menikah lagi.
Dua tahun yang lalu kakaknya sempat mengjak tinggal bersama tapi di tolak olehnya dengan alasan ingin tinggal bersama ibu dan ingin sekolah di tempat dia di lahirkan.
Puput eka pratiwi
Puisi Periode 1960-1980
Tahun 1960-an adalah masa yang sangat produktif bagi perpuisian Indonesia. Bahkan pernah berjaya pada tahun 1963-1965 penyair-penyair anggota Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), sebuah lembaga yang didirikan Partai Komunis Indonesia/PKI. Puisi periode angkatan ini lazim disebut sebagai puisi Angkatan 66 (Waluyo, 2002: 107). Menurut H.B. Jassin, para pelopor angkatan ini adalah para penyair demonstran seperti Taufiq Ismail dengan salah satu kumpulan puisinya Tirani (19166), Goenawan Mohamad dengan salah satu kumpulan puisinya Parikesit (1972). Selain itu, penyair lain yang tergolong angkatan ini adalah Sapardi Djoko Damono dengan salah satu kumpulan puisinya Ayat-ayat Api (2000), Hartoyo Andangjaya dengan salah satu kumpulan puisinya Simponi Puisi (bersama D.S. Moeljanto, 1954), Sutardji Calzoum Bachri dengan salah satu kumpulan puisinya O, Amuk, Kapak (1981), Abdul Hadi W.M. dengan salah satu kumpulan puisinya Riwayat (1967), Yudistira Adinugraha Massardi dengan salah satu kumpulan puisinya Omong Kosong (1978), Apip Mustopa dengan salah satu kumpulan puisinya dimuat di antologi sastra karya Ajip Rosidi Laut Biru Langit Biru (1977), Piek Ardiyanto Supriyadi dengan salah satu kumpulan puisinya Biarkan Angin Itu (1996), Linus Suryadi Ag dengan salah satu kumpulan puisinya Langit Kelabu (1976), dan D. Zawawi Imron dengan salah satu kumpulan puisinya Nenek Moyangku Air Mata (1990).
Ciri-ciri puisi Angkatan 66 adalah:
Puisi-puisi bersifat filosofis
Adanya rintisan baru pada puisi, yaitu puisi mantra dan konkret yang dipopulerkan oleh Sutardji Calzoum Bachri
Bersifat naturalis, realis, dan eksistensialis.
Sebagai cerminan karakteristik puisi Periode Angkatan 66, mari kita baca puisi Benteng karya Taufiq Ismail di bawah ini:
BENTENG
Sesudah siang panas yang meletihkan
Sehabis tembakan-tembakan yang tak bisa kita balas
Dan kita kembali ke kampus ini berlindung
Bersandar dan berbaring, ada yang merenung
Di lantai bungkus nasi bertebaran
Dari para dermawan tidak dikenal
Kulit duku dan pecahan kulit rambutan
Lewatlah di samping Kontingen Bandung
Ada yang berjaket Bogor. Mereka dari mana-mana
Semuanya kumal, semuanya tak bicara
Tapi kita tidak akan terpatahkan
Oleh seribu senjata dan seribu tiran
Tak sempat lagi kita pikirkan
Keperluan-keperluan kecil seharian
Studi, kamar-tumpangan dan percintaan
Kita tak tahu apa yang akan terjadi sebentar malam
Kita mesti siap saban waktu, siap saban jam.
1966
Pada puisi di atas, terlihat jelas sekali bagaimana Taufiq Ismail mendeskripsikan realitas yang ia rasakan pada saat ia membuat puisinya.
Kolak Ubi dan Sirup Jenifer
Kebiasaan di desa Bandorasa Kulon kegiatan masyarakatnya membauat kolak dari ubi. Hal ini sudah menjadi hal yang biasa dilakukan setiap bulan Ramadhan. Dan juga sebuah minuman yang sangat terkenal di Kuningan yaitu sirup jenifer.
Setiap daerah mempunyai ciri khas yang berbeda-beda seperti isian kolak, di desa kami biasanya isiannya adalah kolang-kaling, pacar cina dan tentunya ubi itu sendiri. Ubi memIliki warna yang berbeda seperti merah,putih,kuning, dan palaing yang mencolok adalah ungu.
Tidak kalah juga sirup jenifer yang terbuat dari sari-sari markisa yang telah di produksi masal oleh masyarakatnya sehingga sirup ini cocok untuk sajian berbuka puasa. Biasanya masnyarakaat hanya mencampurkan dengan es dan air sedikit.
Semua kebiasaan itu terjadi secara turun-menurun karena setiap sajian itu ada setiap bulan Ramadhan saja dan hari biasanya tidak ada disetiap rumahnya masyarakatnya.
Masyarakat juga sudah terbiasa juga mengomsumsi itu setiap bulan Ramadhan. Contohnya saja keluarga kami yang bisa kita pikirkan ketika buka puas minum sirup jenifer dan setelah itu kita makan kolak sesudah sholat maghrib.
Ada dalam benak saya mengapa bulan Ramadhan itu di indetikan dengan kolak, setelah dipikir-pikir dan melihat para tetangga bikin kolak dansirup jenifer memang semua itu sudah jadi kebiasaan di desa kami.
Tidak tau dari mana awal mulanya semua itu menjadi kebiasaan, tetapi menurut keluarga saya membuat kolak dengan ubi. Pada saat ubi panen yang melimpah sehingga masyarakat jadi bingung harus di apakan namun dengan ketidak sengajaan masyrakat mulai membuat kolak mencampurkan dengan ubi. Berbeda lagi dengan sirup jenifer yang mencoba sekelompok masyarakat membuat siruf hamper sama dengan perihal tadi, karena melimopah dan harus diapakan. Mereka mulai membuat sirup itu dan dijual ke halayak umum.
Biasanya ubi di desa kami juga di jual ke luar kota dan hasilnya lumayan walaupun kadang harga naik turun membuat para penjual merasa rugi. Begitu pula dengan sirup jenifer mulai dijual di luar kota juga apalagi sedang bulan Ramadhan hasilnya bisa berlipat-lipat.
Nama : Karniti
Kelas : 1a
Di dusun cikole, desa Padamatang, kec Pasawahan, Kuningan ada sebuah mushola yang letaknya di pinggir jalan dan menyatu dengan kolam dan di atasnya tempat kemping, di situ setiap bulan ramadhan anak remaja jarang sekali yang taraweh di mushola cikole padahal setiap harinya banyak yang mengaji di mushola dan anak remaja di dusun cikole itu banyak. Dari saya kecil sampai saya dewasa bahkan sampai tahun sekarang bisa di hitung anak remaja yang taraweh di mushola cikole, setiap tahunnya paling 2 sampai 3 anak remaja saja yang taraweh di situ setiap tahunnya. Padahal tempatnya yang sejuk, nyaman tapi jamaah taraweh adalah orang dewasa sampai tua semua.
Bukan hanya itu saja setiap ramadhan juga yang jualan es buah, es campur, es jeli itu dari dulu sampai sekarang cuma 1 orang itu juga di ujung desa, setiap beli pasti selalu ngantri. Mungkin itu saja keunikan dari desaku
Ditulis : Puput Eka Pratiwi
Saya mengomentari berita dari koran kompas pada hari senin, 22 april 2019 yang berjudul pelopor madu kelulut Riau.
Setelah saya membaca dari segi bahasa mudah dipahami, beritanya menarik untuk dibaca apalagi oleh orang yang patah semangat gara-gara belum dapat pekerjaan. Isi beritanya itu mulai dari pengertian kelulut di jelaskan, pengalaman Zulnasri (peternak madu kelulut) juga di jelaskan sampai dia sukses d jelaskan.
Diksi :
1. Zulnasri kecil masih ingat akan hutan desanya yang luas. Hutan itu begitu perkasa.
2. Auman harimau masih terdengar.
3. Benih-benih kecintaan terhadap hutan sudah mengalir di darahnya.
Puput Eka Pratiwi
Asslamualaikum wr.wb
Saya Puput Eka Pratiwi, saya tinggal di desa Padamatang, kec Pasawahan, kab Kuningan. Ketika saya bermain ke rumah teman yang melewati kali pasti kali itu airnya kotor yang dulu bersih sekarang kotor dan begitu juga dengan airnya yang sedikit.
Saya mohon kembalikan lagi kali yang bersih seperti dulu karena masih banyak warga yang mandi dan mencuci di kali tersebut. Supaya warga di desa saya hidup sehat.
Wasalamuaaikum wr.wb
Assalmualaikum wr.wb
Saya Karniti tinggal di sekitaran jalan Bandorasa kulon, seperti biasa baik kendaraan motor 2 roda, angkot, mobil pribadi. Sehingga tahu keadaan lalu lintas disini.
Saat itu saya ya akan pulang ke rumah dan harus menyeberang jalan raya. Saya menunggu lampu merah namun lampu merah itu itu tidak menyala sehingga saya mendekatkan diri untuk menyebrang walaupun banyak sekali kendaraan yang kurang mengikuti aturan dalam kecepatan hanya karena lampu lalu lintas pada hari libur tidak aktif.
Itu yang membuat saya selalu was-was karena menyeberang harus benar-benar hati-hati apalagi orang pejalan kaki.
Menurut saya itu sangat berbahaya bagi pejalan kaki dan itupun tepat di depan pos polisi namun pada hari-hari tertentu polisi tidak ada ditempat sehingga kita menyeberang itu sangat harus hati-hati.
Agar mengaktifkan kembali lampu merah itu supaya tidak membingungkan para pejalan kaki untuk menyeberang jalan karena sangat berbahaya sekali.
Untuk pejalan kaki dibutuhkan sekali ok untuk kewaspadaan dalam menyeberang jalan.
Wasalamualaikum wr.wb